Sunday, February 15, 2015

KONDISI GULA JAWA TIMUR MEMASUKI TAHUN 2015

hotnews

Menutup tahun giling 2014 tercatat produksi gula Jawa Timur yang dihasilkan oleh 31 PG di Jawa Timur mencapai 1,26 juta ton. Di bawah 5 perusahaan gula yaitu PTPN X, PTPN XI, PT. Candi Baru, PT. Rajawali dan PT. Kebon Agung tebu dengan areal seluas 219.110 ha telah selesai diproduksi menjadi gula. Produksi tersebut naik 16.000 ton dibandingkan tahun 2013 silam. Kenaikan produksi ini menunjukkan berhasilnya Bongkar Ratoon yang dilaksanakan pada tahun 2013 yang lalu. Sebagaimana diketahui bahwa Bongkar Ratoon adalah peremajaan tanaman tebu, di mana tebu yang telah dikepras 3 kali atau lebih akan menurun produktivitasnya, sehingga perlu dilakukan penggantian tanaman dengan cara membongkar seluruh akar tanaman tebu untuk kemudian ditanami dengan tanaman baru dari bibit hasil KBD yang telah disertifikasi. Kegiatan Bongkar Ratoon pada tahun 2013 tersebut menampakkan hasilnya setelah tahun 2014 ini walaupun cuaca juga tak bersahabat, dan musim kemarau basah, namun produksi gula terbukti masih ada kenaikan.
Kondisi positif tersebut juga diiringi oleh berbagai permasalahan lain yang muncul pada saat tebu sudah menjadi gula. Harga gula tebu sesuai HPP 2014 dipatok pada Rp. 8.500 /kg. Namun yang terjadi di lapangan ternyata harga lelang tebu berada di bawah HPP yaitu di kisaran Rp. 7.500 – Rp. 8.000. Rendahnya harga lelang gula ini karena tidak lakunya gula di pasaran, diduga akibat rembesan gula rafinasi yang masuk di pasar konsumsi. Mestinya gula rafinasi yang memang lebih murah itu khusus untuk industri makanan dan minuman saja. Kalau sampai merembes ke pasar konsumsi tentu saja gula PG kalah bersaing harga dan menjadi tidak laku.
Permasalahan lain yang juga dirasakan adalah menjadi macetnya distribusi gula ke wilayah Indonesia Timur. Produksi gula Jawa Timur yang selalu surplus dari tahun ke tahun, dari total produksi Jatim 1,26 juta ton; konsumsi untuk Jawa Timur adalah 450 ribu ton sehingga ada surpus 810 ribu ton. Tahun – tahun yang lalu surplus gula Jawa Timur ini didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan gula di Indonesia Timur, namun tahun ini nampaknya distribusi tersebut menjadi macet. Hampir tidak ada aliran perdagangan gula ke wilayah Indonesia Timur. Pertanyaannya lantas dari mana Indonesia Timur bisa memenuhi kebutuhan gula konsumsinya kalau tidak dari Jawa Timur? Dan lagi – lagi rembesan gula rafinasi ke pasar konsumsi diduga menjadi penyebabnya.
Akumulasi dari permasalahan tersebut berakibat menumpuknya stok gula di gudang milik PG – PG di Jawa Timur. Tercatat sampai akhir tahun 2014, masih tersisa 730 ribu ton gula di gudang milik PG. Kondisi ini cukup membingungkan para pelaku industri gula di Jawa Timur. Yang juga menambah ganjalan lagi adalah pada bulan Desember 2014 tersebut pemerintah pusat mengijinkan impor raw sugar sebesar 600 ribu ton, di saat stok gula Jatim yang masih menumpuk di gudang – gudang PG ± 730 ribu ton. Situasi pergulaan tahun 2014 yang lalu, memang tantangan terbanyaknya lebih pada hilir yaitu tata niaga gula, sedang masalah hulu produksi gula yaitu mulai aspek on farm dan off farm telah menunjukkan hasil yang baik, walaupun tentu saja tetap perlu peningkatan kinerja semua aspek tersebut.
Mengingat kondisi tahun 2014 tersebut, maka prediksi tahun 2015 mendatang nampaknya stok gula Jawa Timur akan bertambah lebih besar lagi. Sisa stok 2014 tersebut akan ditambah produksi gula tahun 2015 yang akan mulai giling bulan Mei 2015, menjadikan gula akan melimpah ruah di Provinsi Jawa Timur. Pertanyaan besarnya, lantas akan kita kemanakan gula itu? Semoga pemangku kebijakan tata niaga gula di pusat akan bisa menyelesaikan permasalahan ini sehingga petani tebu Jawa Timur akan tetap bersemangat menjadi penyumbang gula untuk memaniskan separuh nusantara.
(Tim) 

KOMODITI UNGGULAN : TEBU

Tebu (Saccharum officinarum) merupakan salah satu komoditi perkebunan yang penting dalam pembangunan sub sektor perkebunan antara lain untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun sebagai komoditi ekspor penghasil devisa negara. Dalam upaya meningkatkan produksi dan produktivitas tebu serta mendukung keberhasilan Program Swasembada Gula Nasional, di Jawa Timur dilaksanakan Program Akselerasi Peningkatan Produktivitas Gula Nasional sejak tahun 2001. Kegiatan rehabilitasi tanaman menggunakan bibit tebu unggul telah dapat mengganti pertanaman tebu varietas lama milik petani seluas 28.000 Ha. Kemudian mulai tahun 2003 dilaksanakan kegiatan penggantian varietas melalui pembangunan kebun bibit dan Bongkar Ratoon. Pembangunan kebun bibit seluas 2.912 Ha pada tahun 2003, 2.861 Ha pada tahun 2004 dan 2.861 Ha pada tahun 2005. Realisasi kegiatan bongkar ratoon di Jawa Timur mulai tahun 2003 - 2005 mencapai 97.135 Ha, yang terdiri dari hasil bongkar ratoon tahun tanam 2003/2004 terealisasi 26.125 Ha, pada musim tanam 2004/2005 seluas 31.110 Ha, musim tanam 2005/2006 seluas 39.900 Ha. Pada tahun 2013 dilakukan program bongkar ratoon di 26 kabupaten seluas 28.400 ha.Berikut ini data perkembangan areal, produksi, produktivitas dan rendemen tebu di Jawa Timur dalam kurun waktu 2008 - 2012 :
Tabel Perkembangan Areal, Produksi, Produktivitas dan Rendemen Tebu di Propinsi Jawa Timur Tahun 2007 - 2011
Tahun Giling
Areal(Ha)
Produksi Hablur(Ton)
Produktivitas(Kg/Ha)
Rendemen (%)
2008
206.263
1.065.523
6,32
7,34
2009
186.026
1.020.481
6,30
6,58
2010
193.396
1.014.272
5,24
6,07
2011
192.587
1.051.642
5,46
7,46
2012*
198.277
1.252.788
6,32
8,05
Rata-rata
195.310
1.080.941
5,93
7,10
*) Angka Sementara





Tabel Kontribusi Produksi Hablur Tebu Jawa Timur terhadap Nasional Tahun 2007 - 2011

Produksi Hablur
Tahun Giling
Nasional (Ton)
Jawa Timur (Ton)
Kontribusi (%)
Pertumb. (%)
2008
2.703.976
1.065.523
39,41

2009
2.624.068
1.020.481
38,89
-4,32
2010
2.388.636
1.014.272
42,46
-0,61
2011
2.228.259
1.051.642
47,20
3,68
2012*
2.438.198
1.252.788
51,38
19,13
Rata-rata
2.476.627
1.080.941
43,87
4,49
*) Angka Sementara